Four Kinds of Leader in Company

I read in a book that company must be through 4 steps or cycles. First is start up, growth, big scale and diminished. At start up stage, company needs an enterpreneur, a dreamer. Without a  dreamer a company will never exist. When company in transition and start to grow, it needs a visionary leader with plans ahead and young and fresh people to help. When a company turn into big scale company, it needs a real CEO. An operational CEO who spend his time 250 days in a year outside the office, make some deals and visit branch companies all over the world or country. When profit is step down, shareholders usually will assign a pragmatic CEO. A pragmatic CEO focus on efficiency and profit. Pragmatic CEO does not hesitate cut operational cost, cutting employee numbers and cutting unprofitable business unit. He/she doesnt have nostlgic relationship with the company like visionary or enterepener does.

Advertisements

365 Day Challenge

I make a promise to write one post on my blog every single day for 365 day long. To make it work, I will divide my target into some periods, evaluate my target per months. The other rule is I have to write in English. I take this challenge also an exercise for me to gain my writing skill, particularly writing article in English.  It is not easy for me though, but I will try my best.

Writer’s block always become my problem when I’m trying  to write. I also want my writing to be perfect. The other problem is when I’m trying writing in English, I am worrying too much about grammar and want to use fancy word or sentences in my article.

 

Book : The Four

images

Currently I am reading a book about 4 big companies that conquered the world. Apple, Amazon, Facebook and Google with their resources could captivate market bigger than traditional big companies combined. From this book I got another perspective about how dangerous and greedy the big four conquered and stalked our privacy and we were really not aware. On the contrary we admire them and see them as “god”.

Side Project

I thought having side project will be good idea. I got this idea while I was browsing articles on internet about boredom and how to boost my productivity. The articles said that a side project doesn’t always give economical impact, but tend towards personal satisfaction. Sometimes when you feel bored and demotivated, you need to do something to spur your spirit. It doesnt matter your project will be failed or succeed, at least you are pleased by your effort. I have idea to write a book about coal geology and field technique that useful for junior geologist and engineer at my office.

Orang Indonesia Rajin Bikin Komunitas

assc
source : instagram @antissocialsocialclub

 

Saya rasa orang Indonesia adalah orang yang paling rajin bikin komunitas. Misalnya otomotif, hampir tiap seri dan jenis kendaraan ada komunitasnya. Mau motor atau mobil, dari yang murah sampai yang mahal. Semua nya ada komunitasnya. Kalau di bidang olahraga juga begitu, ada klub runner, klub sepeda, klub motor trail, sepatu roda dan lain lain.

Mengapa kita suka bikin komunitas? Apakah karena kita sangat suka kumpul-kumpul, nongkrong bersama, melakukan kegiatan bersama-sama sehingga perlu wadah untuk kesamaan hobby, pikiran dll. Atau karena saking extrovert nya orang Indonesia suka bergaul dimana-mana? Mungkin ada yang pernah melakukan penelitian ini?

Namun terkadang komunitas membuat segregasi dalam kelompoknya sendiri. Lama-lama muncul persaingan dalam kelompok. Misalnya kelompok runner, ada yang akhirnya menjadi perlombaan sepatu, apparel dan gengsi2 lainnya. Meskipun pada awalnya kelompok ini terbuka, namun menjadi semakin eksklusif di kemudian hari, sehingga anggota atau calon anggota akan terseleksi dengan sendirinya. Begitupun di kelompok-kelompok lainnya, meskipun hal ini tidak bisa digeneralisir semuanya.

Kalau saya sendiri tidak ada tergabung dalam kelompok atau komunitas manapun, paling pun saya hanya ikut rutin futsal di kantor tiap minggu. Saya juga merasa bukan seseorang yang extrovert yang tiba-tiba bisa bergaul dengan komunitas orang-orang yang tidak begitu saya kenal, meskipun hobby nya sama. Tapi sekali lagi tiap orang berbeda.

Membantukah SPLU PLN?

SPLU ini saya temukan di depan kantor PLN Pusat di Blok M. Saya tertarik karena baru pertama kali melihat. Simpelnya SPLU adalah tempat colokan listrik berbayar. Pada box putih tertulis petunjuk penggunaan. Cara pemakaiannya sama seperti mengisi listrik prabayar. Jadi kita isi pulsa listrik sesuai dengan nomor meteran yang tertera di box.

Menurut saya SPLU ini tidak praktis dan tidak membantu. Untuk memakainya harus membeli pulsa listrik terlebih dahulu, sementara di sekitar sana tidak tersedia tempat penjualan pulsa listrik, apakah harus mengisi ke minimarket terlebih dahulu? Masih bagus kalau punya aplikasi mobile banking di smartphone.Tapi kalau low batt bagaimana? Terus pulsa sudah diisi, dan daya sudah diguanakann, kalau bersisa bagaimana? Apakah bisa dipindahkan saldo listriknya ke meteran di rumah?

Seharusnya SPLU ini seperti vending machine, masukkan uang atau tempel uang elektronik dan langsung bisa melakukan pengisian daya dan sisa saldo listrik bisa dipindahkan ke meteran lain.

Mudah-mudahan PLN memikirkan solusi hal-hal tersebut.

Layanan Angkutan Umum Jakarta

Dua tahun terakhir, saya lebih banyak menggunakan transportasi umum jika pergi ke kantor. Saya biasanya menggunakan moda transportasi commuter line (KRL), namun sekarang lebih sering naik Transjakarta (TJ/Busway). Dari rumah biasanya saya parkir di parkir vertikal halte busway Ragunan dan dilanjutkan dengan naik busway ke kantor. Kebetulan kantor saya tepat di depan halte busway.

Jka saya bandingkan, TJ jauh lebih nyaman daripada KRL. Naik TJ sekarang tidak perlu berdesak-desakan, armadanya baru dan banyak sehingga tidak perlu menunggu berlama-lama menunggu busway (saya tidak tahu jalaur TJ lain apakah sebaik ini). Jalur TJ dari Ragunan juga steril dari kendaraan lain, sehingga TJ tepat waktu dan tidak terganggu kemacetan. Dibandingkan KRL, gangguan pada TJ lebih jarang terjadi. Saya ingat beberapa tahun lalu naik KRL sering ada gangguan, sehingga KRL tertahan dalam waktu yang lama, desak-desakan yang luar biasa dan jadwal yang sering kurang tepat, belum lagi tapping exit stasiun yang antri nya panjang sekali.

Gangguan yang pernah saya alami di TJ adalah terlambatnya busway karena terjebak macet pembangunan underpass di Mampang dan pintu tapping entry error. Waktu kejadian tapping error, antrian mengular karena harus bayar tunai untuk masuk. Saya perhatikan TJ masih harus berbenah untuk memitigasi kejadian tidak terduga. Tidak hanya TJ, tapi seluruh angkutan ataupun fasilitas umum harus punya mitigasi terhadap risiko hal-hal yang tidak terduga, sehingga masalah dapat diatasi dengan smooth. Angkutan umum juga harus sering-sering melakukan survei kepuasan pelanggan sebagai input untuk peningkatan pelayanan.