Review Buku : Misteri Desain Apple

cover_akhir

Hari ini saya menamatkan lagi buku yang berjudul Misteri Desain Apple. Buku ini saya beli 2 minggu yang lalu dengan harga diskon, hanya Rp. 15.000. Buku nya sudah cukup lama, terbit tahun 2012. Tebal halaman buku sekitar 138 halaman. Bahasa pada buku ini mudah dicerna dan tidak berbelit-belit.

Buku ini mencoba menjelaskan kenapa desain produk Apple begitu bagus dan beda dengan produk merek lain. Simplicity atau kesederhanaan merupakan syarat mutlak pada setiap desain  produk Apple. Desain Apple sangat fokus pada hal-hal yang penting dan hanya unsur yang penting lah yang ditampilan. Coba misalnya desain Macbook, selain logo Apple sebagai identitas produk, keseluruhan produk dibuat polos, tidak hal-hal yang ditonjolkan, kecuali hal-hal yang berguna. Begitupun iPad dan iPhone, layar yang cerah menjadi pusat perhatian, sementara unsur yang lain ditampilkan tidak berlebihan, sesuai dengan fungsinya.

Steve Jobs adalah seseorang yang sangat peduli pada desain. Hal ini dilatarbelakangi pengalamannya belajar kaligrafi semasa berkuliah. Pengalaman spritual Jobs ketika berkelana di India dan pendalamaannya mengenai Zen, mempengaruhi semua desain produk Apple. Selain menerapkan prinsi-prinsip Zen, Jonanthan Ive kepala desainer Apple yang menjadi kepercayaan Jobs, sangat teinspirasi dengan desain Dieter Rams, tokoh terkemuka Bauhaus. Bauhaus adalah sekolah desain di Jerman dengan reputasi tinggi.

Hal lain yang menarik perhatian saya saat membaca buku ini adalah mengenai penjelasan matematis tentang sebuah keindahan. Bahwa persepsi kita tentang keindahan ditentukan oleh bagaimana otak kita melihat sebuah objek terbentuk dengan proporsional. Bab pembahasan mengenai deret Fibonacci dan Golden ratio pada buku ini menjelaskannya dengan gamblang.

Overall buku ini adalah buku yang bermanfaat dan mudah dicerna bagi orang yang awam desain.

Advertisements

Review Buku : Norwegian Wood

Minggu lalu saya menamatkan buku karangan Haruki Murakami, Norwegian Wood. Tebal nya sekitar 400 an halaman. Saya membaca versi Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit KPG, dan diterjemahkan oleh Jonjon Johana. Saya googling Jonjon Johana adalah dosen di Unpad Bandung. Terjemahannya bagus sekali menurut saya. Buku ini tidak setebal buku 1Q84 sehingga lebih cepat menamatkannya. Apalagi buku 1Q84 yang saya baca dalam versi Bahasa Inggris haha.

7528e6af58ed22a7f00346db44142b49
sumber : Pinterest

Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1987, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 2000, kalau ke Bahasa Indonesia tahun 2002 CMIIW. Norwegian Wood sendiri terinspirasi dari lagu The Beatles yang berjudul sama. Kalau dibaca liriknya, seperti nya Murakami sangat terinspirasi dari lagu ini.

Setting cerita adalah pada tahun 60-an akhir hingga 70-an awal. Ceritanya adalah flashback tokoh utama Toru Watanabe pada masa-masa saat dia berumur 18-20 tahun awal. Kematian sahabat karib nya, kekasihnya, Naoko yang sakit jiwa (akhirnya pun bunuh diri) dan Midori wanita lain yang mencintainya adalah inti dari cerita Norwegian Wood. Yang jelas novel ini diperuntukkan untuk dewasa, karena begitu banyak cerita berbau seks. Saya cuma wondering apakah kehidupan di Jepang di masa itu apakah sudah sebebas itu?

Hal yang membuat saya menyukai buku ini adalah, bagaimana Harukami membuat deskripsi dengan detail. Saya jadi bisa membayangkan lokasi-lokasi yang ada dalam cerita meskipun saya belum pernah kesana. Murakami juga sukses membuat cerita yang membawa pembaca pada kesuraman dan kesedihan yang ada dalam cerita, meskipun ada unsur-unsur lucu juga di dalamnya.

Cerita dalam buku ini juga sudah pernah difilmkan dengan judul yang sama dan direlease tahun 2010. Kesan saya menonton film ini sekilas : Midori di film jauh lebih cantik dibandingkan yang saya bayangkan di buku. Naoko? Saya di buku juga tidak tertarik dengan Naoko. haha

Membaca dan Literasi

Salah satu hobby saya adalah membaca. Saya mulai keranjingan membaca bahkan sebelum masuk TK. Sejak umur 3-4 tahun, orang tua saya sering membelikan majalah anak-anak, walhasil saat TK saya sudah mulai membaca koran. Aneh sih anak TK baca koran hehehe. Namun sayang nya hobi baca saya ini terkendala susah nya mencari buku-buku terbaru dan berkualitas, karena saya tinggal di kota kecil. Untuk membeli buku harus ke ibukota provinsi. Perpustakaan juga koleksi buku nya terbatas dan sudah lama, rata-rata buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Akhirnya saya lebih sering membaca koran dan majalah ataupun ke tempat penyewaan komik.

82913915

Saya bersekolah SMA di kota lain dan tinggal di asrama. SMA ini adalah SMA unggulan provinsi yang dibentuk pemerintah, namun lagi-lagi minim koleksi buku. Jangankan buku, majalah dan koran saja tidak ada. Untungnya ada perpustakaan M. Nur Idris di Padangpanjang yang koleksi nya lumayan. Tempatnya berbentuk seperti rumah tua yang ukurannya tidak terlalu besar, namun sejuk dan asri. Dalam biografinya, Hamka sering membolos sekolah dan membaca buku di bibiliotek ini. Walaupun sebenarnya kurang lengkap, tapi masih dapat memenuhi dahaga ingin membaca. Dulu saya berjalan sekitar 4-5 km menuju kesana..wow.. wajar saja dulu saya ceking hehe. Saya sering membaca novel, majalah dan buku sains populer.

Kemudian ketika berkuliah di Bandung, saya malah tidak rajin membaca, yang dibaca hanya slide kuliah. Lebih sering bermain. Padahal sumber bacaan ada dimana-mana. Bahkan di internet pun bisa mendownload e-book. Namun ketimbang membaca, saya lebih sering berjejaring di friendster atau ngobrol di milis (sekarang dua-duanya sudah kuno). Kebiasaan membaca di social media sering membuat saya malas membaca tulisan yang panjang, apalagi buku. Setelah bekerja saya mulai hobi membaca lagi, apalagi istri saya juga suka membaca. Kita sering jalan-jalan ke toko buku dan membeli buku.

Membaca buku adalah hal yang jauh menyenangkan bagi saya daripada membaca berita-berita atau artikel di sosial media. Lebih menenangkan dan tentunya menambah ilmu. Saat ini saya sedang suka sekali membaca buku sebelum tidur, anak saya pun suka membaca buku sebelum tidur. Untuk anak 3 tahun koleksi buku nya banyak. Bahkan kalau sekarang di toko buku, dia sudah memilih buku pilihannya sendiri. Walaupun belum bisa membaca, anak saya bisa menceritakan kembali isi buku dari apa yang didengarnya.

Selain menyenangkan dan menenangkan, membaca itu penting. Ayat pertama alquran itu adalah perintah membaca. Saya pernah baca tweets seorang jurnalis di twitter yang isinya kurang lebih begini, “Kurangnya minat baca biasanya berbanding lurus dengan meningkatnya minat berkomentar”. Ini adalah sindiran bagi orang-orang yang suka berkomentar terlebih dahulu tanpa membaca atau mengkroscek lebih dalam.

infografis-literasi-baca

Salah satu Kunci kemajuan pemikiran dan kemajuan peradaban adalah literasi. Indonesia adalah negara yang masih tertinggal dalam hal literasi. Anak-anak di Amerika membaca minimal 32 buku per tahun, di Singapura minimal 12 buku per tahun, Indonesia hanya 0 buku per tahun. Buku yang dimaksud disini adalah karya literatur, tidak termasuk komik dan majalah. Hasil penelitian UNESCO pun demikian, kita negara dengan tingkat literasi terendah di ASEAN.

Semoga kedepannya orang Indonesia lebih gemar membaca.

Berkeliling Dengan Sepeda

Masa kecil saya, setidaknya hingga SMA, selalu diisi dengan kegiatan bermain di sore hari. Banyak yang bisa dilakukan dulu, bermain sepeda, berenang, bermain layangan atau pun bermain sepakbola. Masa yang membahagiakan. Sejak bekerja dan tinggal di Jakarta, saya jarang merasakan lagi masa-masa bermain, yang ada hanyalah jalan-jalan keluar ke mall dan makan di luar bersama keluarga, atau sesekali berliburan keluar kota. Jakarta memang minim ruang terbuka dan hijau yang gratis, jangankan gratis yang bayar saja tidak banyak.

Sejak saya memutuskan membeli sepeda, saya merasakan suasana bermain seperti dulu. Saya membeli sepeda yang tidak terlalu mahal, yang penting cukup nyaman saya gunakan berkeliling di akhir pekan. Ya saya memang dari dulu bukan hobbyist sepeda, saya tidak mengikuti perkembangan teknologi sepeda, apalagi ikut klub sepeda. Seperti teman kantor saya yang tiap akhir pekan menyewa mobil pickup atau angkot ke atas bukit di Sentul, kemudian bersepeda down hill.

Mengendarai sepeda dengan santai, saya bisa menikmati lingkungan sekitar tempat tinggal, yang selama ini jarang saya perhatikan. Saya tinggal di Depok, di belakang Universitas Indonesia. Berbatasan dekat dengan daerah Jakarta Selatan. Relatif dekat ke kantor saya di sekitar Jakarta Selatan. Suasana tempat tinggal saya masih asri, masih banyak pepohonan, dan masih banyak ruang terbuka. Jalanannya juga tidak terlalu ramai, sehingga menyenangkan untuk bersepeda. Saya membagi menjadi 4 rute bersepeda saya, Rute ke arah Barat menuju daerah Tanah Baru dan Jagakarsa. Rute ini kurang begitu menarik bagi saya, karena kendaraan dan angkot cukup banyak. Dibanding ke arah Barat rute bersepeda ke Timur lebih agak nyaman, di dalam lingkungan Universitas Indonesia. Rute ke Utara ke arah Srengseng Sawah atau sekitaran Kukusan bagus untuk berburu kuliner. Rute favorit saya akhir-akhir ini ke arah Selatan ke arah Beji Timur, suasananya tenang dan meyenangkan. Melihat inspirasi arstitektur rumah, atau jalan-jalan melihat sepakbola Tarkam. Kelurahan Beji timur punya lapangan sepakbola yang rapi dan terawat. Sebenarnya di sekitar Kelurahan Kukusan juga ada lapangan. Namuan kualitas rumputnya tidak sebagus di Beji Timur.

WhatsApp Image 2017-04-17 at 9.37.14 AM
Nonton Tarkam di Beji Timur

Long weekend lalu saya dua hari menikmati pertandingan tarkam di lapangan Beji Timur. Sebenarnya pertandingan berlangsung Jumat, Sabtu dan Minggu. Namun karena Sabtu mendung saya hanya menonton 2 hari. Penonton selalu cukup ramai. Rata-rata naik motor. Yang menonton dari anak-anak hingga orang tua. Yang saya perhatikan di lingkungan saya tinggal suasananya masih kekeluargaan. Orang-orang masih saling mengenal. Ada yang tadinya hanya lewat, berhenti dan ikut menonton karena melihat tetangga yang sedang menonton. Lingkungan yang menyenangkan.

Fairness

Pembalap F1 ditanyai tentang apa hal yang mereka inginkan ada di F1. Ricciardo menginginkan balapan di F1 di Las Vegas, Hamilton ingin balapan di Miami, Alonso malah menginginkan Mesin yang sama untuk setiap pembalap. Secara tidak langsung Alonso meragukan kualitas mesin Honda yang saat ini memasok mesin ke tim McLaren. Performa Mclaren memang tidak mengesankan di GP Australia pekan lalu..

Apakah mesin yang sama untuk setiap pembalap adalah fair?

Diluar masalah etis atau tidak tentang Alonso mempermasalahkan tim nya, saya tidak sependapat dengan Alonso.

Sama mungkin terdengar lebih fair, tapi hal itu tidak selalu benar. Sesuatu yang superior tidak selalu menang kan? Leicester City jelas tidak sekaya Manhester City, Michael Jordan bukanlah pemain tertinggi di NBA, Mke Tyson juga bertubuh lebih pendek daripada lawan-lawanya. Yang terpenting adalah passsion. Passion dalam menjalankannya meskipun dengan kondisi apa adanya. Sebastian Vettel sewaktu menjadi juara empat kali, bukanlah mengendarai Ferrari, Michael Schumacher pertama kali memenangkan juara bersama tim Benetton. Selalu ada kemungkinan selama ada passion. Passion lah yang menggerakan sesorang bergerak dan berusaha lebih keras, walaupun banyak rintangan.

Kulit Bawang

Jika Jakarta (tidak termasuk daerah penyangga) diibaratkan konsentris kulit bawang, bagian kulit atau yang terlihat di permukaan adalah jalan protokol dengan gedung-gedung nya. Ukuran jalan protokol tentu sangat lebar dengan kondisi yang sangat baik. Lapisan setelah itu adalah pemukiman kelas atas yang dekat dengan pusat kota. Ukuran jalan nya besar, kondisi jalan bagus dan lebar. Jika masuk lebih dalam lagi akan ditemukan pemukiman kelas bawah. Biasanya ada tembok tinggi dengan portal yang membatasi pemukiman kelas atas dan bawah tadi. Ukuran jalan mengecil, mulai lah kali-kali dan got terkspos. Saking kecil nya jalan, hanya bisa dilalui satu orang/motor.

#pengalaman naik gojek dari daerah penyangga ke pusat kota