Jam Kelelahan dan Mengantuk

Kadang ada masa saya kelelahan kehabisan energi karena harus bolak balik dari kota-kota yang berbeda. Seperti sekarang mata mengantuk dan malas mengerjakan apa-apa. Maunya tidur tapi susah karena masih di kantor. Besok pagi harus naik pesawat lagi keluar kota. Melelahkan..Semoga jalanan lancar dan saya cepat sampai di rumah dan beristirahat yang banyak. Aamiin.

Generasi Z dan Youtubers

Generasi Z adalah generasi yang lahir dari dari tahun 1995 – 2010, mereka adalah generasi yang sangat internet savvy. Hobi nya berselancar di dunia maya. Biasanya mereka punya banyak akun sosial media dan aktif di sosial media. Sebenarnya generasi Y seperti saya tidak jauh berbeda, tetapi generasi Z lebih intens mengenal internet bahkan semenjak kecil.

Penggunaan sosial media yang pada awalnya hanya untuk berinteraksi sosial misalnya pertemanan, sekarang berkembang menjadi tempat sharing informasi, bahkan dapat dijadikan sarana mencari uang, mulai dari e-commerce, buzzer, endorse produk, keuntungan dari ads view, dll. Betapa banyak sekarang kita temukan orang-orang biasa menjadi selebritis melalui sosial media. Menjadi terkenal sekarang tidak harus menjadi artis atau membuat prestasi memukau, melalui sosial media semua orang bisa menjadi terkenal, selama mereka bisa menarik banyak followers ataupun view dari audiences nya.

Yang paling anyar sekarang banyak youtubers yang mempunyai channel di youtube. Ada yang meng cover lagu, membuat tutorial, membuat vlog, dll. Youtubers adalah salah satu fenomena yang unik. Pekerjaan yang bisa menghasilkan uang yang banyak, dan pekerjaan ini tidak terpikir bahkan 5 tahun yang lalu. Youtubers berlomba membuat konten-konten yang menarik views dari subscriber mereka, dan youtube akan memasang iklan di channel mereka. Para youtubers akan mendapat komisi dari ads views. Mereka juga bisa mengiklankan produk di channel mereka, dan tidak sedikit yang merambah ke TV, layar lebar atau studio rekaman.

Youtubers pun memilki banyak fans, seperti layaknya selebritis. Istri saya seorang dosen melakukan penelitian terhadap remaja usia 13-15 tahun yang notabene adalah bagian generasi Z. Ada beberapa hal menarik, yang pertama ternyata Generasi Z adalah generasi yang menggilai “likes” di akun sosial media mereka. Mempunyai banyak followers dan likes yang bejibun adalah bukti eksistensi mereka dibanding teman-temannya. hal unik kedua, generasi Z saat ini jika ditanyai siap tokoh idolanya, paling banyak mengidolakan youtubers, diikuti dengan penyanyi internasional, dan atlit. Tidak ada lagi atau sedikit sekali yang mengidolakan pahlawan, tokoh religius, ilmuwan. Jauh berbeda dengan generasi Y yang akan mengidolakan pahlawan, ilmuwan, dan tokoh-tokoh jika ditanyakan pertanyaan tentang idola saat mereka berusia remaja. Maka nya tidak heran, youtubers sekarang bisa menjadi seorang selebritis, ada jutaan remaja disana yang tiap hari menunggu video terbaru dari youtubers.

Sekarang adalah era nya internet. Dukungan sarana jaringan internet yang sudah luas dan cepat memungkinkan muncul nya pekerjaan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. TV dan koran yang selama ini menjadi sumber informasi utama, sekarang sudah tergeser oleh internet. Selebritis yang biasanya berasal dari kalangan artis, aktor & aktris, tokoh-tokoh terkenal, sekarang pun “bersaing” popularitas dengan para selebritis dunia maya. Bisa jadi selebritis dunia maya lebih terkenal dan populer karena memang audiences nya semakin banyak.

Macet Musim Sekolah

Murid-murid sudah kembali masuk sekolah dan ada juga murid baru pertama kali masuk sekolah. Seperti biasa di Jakarta, setiap sudah waktu sekolah, jalanan akan macet sekali di pagi hari, dan akan sepi kembali  atau berkurang macet nya saat liburan sekolah. Kenapa harus macet tiap jam sekolah ? Apakah murid-murid semua nya dinatar kendaraan pribadi oleh orang tua, atau malah membawa kendaraan sendiri ? sepertinya dua-duanya.

Alangkah lebih baiknya jika semua naik bis sekolah pasti macet berkurang. Tapi apakah bis sekolah banyak jumlah nya dan menjangkau ke banyak daerah di Jakarta? Kalaupun misalnya menggunakan alternatif kendaraan umum, apakah aman, nyaman dan cepat sampai sekolah. Mungkin selama bis sekolah dan kendaraan umum belum memenuhi hal tersebut, jalanan akan selalu macet setiap musim sekolah.

Batusangkar Senjakala 90an

Hari Minggu adalah hari yang paling menyenangkan untuk anak sekolahan. Matahari rasanya bersinar lebih cerah dan lembut. Hari Minggu ketika film kartun ditayangkan dari Pagi sampai siang… Ya waktu itu adalah tahun 90-an menjelang Y2K.

Namun hari ini saya mempunyai agenda yang lebih menarik daripada sekedar menonton TV. Setelah meminum teh hangat dan ketan goreng pisang, saya mengayuh sepeda menuju rumah teman-teman. Ya hari  Minggu adalah hari jadwal petualangan. Petualangan menurut ukuran anak SMP.

Uang 2 ribu Rupiah diselipkan di dalam setang sepeda. 1000 buat beli mie instant yang sudah diseduh setelah berenang, 1000 buat patungan beli makan siang.Saya menuju rumah Rio, teman dengan rumah terdekat, menyusul ke daerah Kampuang Baru rumah Adi H yang kelak dipanggil Sandy-ada cerita dibalik transformasi nama tersebut.
Perjalanan dilanjutkan ke arah Koto Panjang menjemput 2 teman lagi Aldo dan Rafi Tujuan kami adalah sebuah pemandian dengan mata air yang sangat jernih yang airnya selalu mengalir deras.

Kami berkonvoi dengan sepeda, ya sebelum bersepeda dianggap hipster. Kami melaju bagaikan konvoi, tapi tak ada patwal karena kami bukanlah rombongan moge atau mobil sport yang ingin melaju di jalan toll.

Pemandian yang dibuatkan kolam dengan lantai alam nan jernih membuat hati tak sabar ingin menyeburkan diri ke dalam kolam. Mata air yang jernih, Nikmat yang tiada tara bagi masyarakat sekitar. Ikan-ikan yang tumbuh besar, tanah yang subur dan sumber air bersih yang melimpah. Sebagai host di tempat pemandian adalah teman sekelas kami dengan nama Ahmed. Ahmed adalah di jago renang.

Puas berenang dan bercanda, kamipun memesan mie instant untuk mengisi perut. Kayuhan sepeda dilanjutkan ke bukit di sebelah timur pemandian. Jalan aspal mulus yang menanjak mengahntarkan kami ke pemandangan sawah yang luas sejauh mata memandang hingga ke kaki gunung Marapi. Gunung aktif volkanik yang menyemburkan kepundan ketika batuk. Dari sana di kejauhan terlihat simbol tigo tungku sajarangan, puncak istana Pagaruyung sebagai representasi kaum adat, kantor Bupati sebagai representasi cadiam pandai  dan masjid Nurul Amin sebagai representasi alim ulama.

Meski matahari mulai tinggi, perjalanan dilanjutkan dengan tujuan istana Pagaruyung. Namun menuju istana pagaruyung banyak hal menarik kami alami, mencoba jembatan gantung di Pakarak, melihat para pekerja memecah batu, atau terkadang ular yang tiba-tiba melintas. Sayang saat itu belum ada go pro, bahkan handphone dengan camera pun belum ada.

Akhirnya tujuan terakhir kami sambangi, istana Pagaruyung. Kami masuk ilegal, masuk dari pintu belakang, we are bacstreet boys literally..Istana pagaruyung saat itu sepi. Surutnya pariwisata sumbar saat itu. Mati suri, minim infrastruktur, tidak ada gebrakan. Apalagi sebelumnya Indonesia dihantam tsunami ekonomi.

Kami berencana melakukan petualangan tiap minggu pada saat itu, dengan rute yang lebih menantang misalnya ke Danau Singakarak, cuma belum pernah terwujud.  Setidaknya masa masa penuh petualangan telah kami teguk..ya sebelum kami tau hidup jadi dewasa itu tidak mudah.. sebelum kami tau bahwa harga Rumah di Depok dan Kabulaten Bandung sudah mendekati 1 Milyar.. sebelum kami tahu sewa apartemen itu 40 juta pertahun, sebelum kami tahu mencari jodoh itu gampang-gampang susah…..

Benarkah Orang Jakarta, Orang Kota ?

Kampung identik dengan keterbelakangan, ketidaksopanan, norak dan kurang maju, setidaknya itulah streotype yang beredar di masyarakat Indonesia. “Dasar kampungan, kamseupay, dll…”itulah kata umpatan yang dikeluarkan orang ketika melihat orang lain dengan perilaku demikian.. Kontras memang dengan isitilah “orang kota” yang berarti maju, modern, berpendidikan, beradab dan maju.

Tapi, benarkah perilaku kampungan hanya milik orang desa atau orang kampung? Kalau kita melihat perilaku sebagian besar penduduk Jakarta, rasanya hanya sedikit “orang kota” beredar di Jakarta, malah lebih banyak “orang kampung” nya.

Memang rata-rata orang kota berpendidikan lebih tinggi dibanding dengan orang kampung atau desa, hidup orang kota lebih maju dan modern, buktinya dapat dilihat keseharian yang melek teknologi, namun orang kota di Jakarta perilakunya itu sering lebih parah daripada orang kampung. Ambil sampel aja, di tempat umum, berapa banyak orang kota Jakarta yang masih merokok, meludah sembarangan, dan menggunakan tempat umum seenaknya. Tempat duduk yang seharusnya untuk lansia, diduduki oleh anak-anak muda dan laki-laki yang masih kuat. Kalau kita lihat di jalan raya lebih parah lagi, perilaku kampungan dan norak, seperti melanggar lampu merah, mengambil hak pengguna jalan, menyerobot seenaknya adalah hal-hal yang lazim dipraktekkan orang kota Jakarta…itu baru sebagain contoh kecil.

Lantas, kalau begini layakkah orang Jakarta disebut sebagai “orang kota”?

Berkunjung ke Museum KAA

Bandung memang dikenal sebagai daerah pariwisata, kebanyakan adalah wisata kuliner, permainan dan alam. Namun Bandung juga mempunyai wisata sejarah. Ada beberapa museum yang ada di Bandung yang saya ketahui, misalnya Museum Geologi, Museum KAI, Museum KAA, Museum Sribaduga, dan Museum  Siliwangi.

Sebelumnya saya sudah pernah mengunjungi Museum Geologi. Museum Geologi menurut saya adalah museum di Bandung yang dikelola dengan baik, koleksinya banyak, informasi nya lengkap, ada guide nya, dan interaktif. Dari segi desain dan tata letak museum juga menarik.

Baru-baru ini saya juga berkesempatan mengunjungi museum lain yang ada di Bandung, yaitu Museum KAA (Konferensi Asia Afrika). Museum yang berlokasi di Jalan Asia Afrika, tidak jauh dari Masjid Raya Alun-Alun Bandung. Masuk ke dalam museum ini gratis, tidak dipungut biaya, hanya perlu mengisi buku tamu. Kondisi ruangan cukup bersih, namun sayang nya koleksi di dalan museum tidak banyak dan kurang informatif. Selain itu tidak ada guide yang menjelaskan tentang koleksi museum. Ruangan  museum tidak terlalu luas, namun ada beberapa koleksi bersejarah yang berhubungan dengan KAA tahun 1955 di Bandung. Koleksi yang menarik antara lain, Mesin Tik, Telegram yang digunakan pers saat acara KAA, selain itu ada juga koleksi Kamera dan Alat Pencetak foto pada saat KAA.

Museum KAA juga mempunyai ruangan audio visual, namun sayang nya saat saya berkunjung kesana, ruangan itu sedang tidak bisa digunakan.

Jadwal Buka Museum Senin-Jumat 08.00-16.00, dan hari Sabtu – Minggu jam 09.00-16.00.. Informasi lengkap di web museum KAA.

Berikut beberapa foto saat kunjungan ke museum KAA :

Usia dan Kedewasaan

Benarkah menjadi tua otomatis menjadi bijak? Dari pengalaman yang saya alami kemarin itu tidak berlaku. Setidaknya itulah yang saya alami kemarin di kereta. Usia tua tidak serta merta membuat orang bisa lebih bertanggang rasa, usia tua tidak menjamin orang makin dekat dengan Yang Kuasa. Bagaimana yang muda? Yang muda pun lebih kanak-kanak daripada dewasa, karena memang tiada teladan dari yang dewasa.